Setelah
menikah, saya dan suami ditugaskan di BPS (Badan Pusat Statistik) Kabupaten
Bulungan, Kalimantan Timur. Hal pertama yang cukup mengganggu adalah mencari
tempat hunian. Maklum, kala itu honor kami selama lima bulan belum dibayarkan.
Maka, dengan berbekal uang pinjaman, kami bersepakat mencari hunian sementara
dengan harga paling terjangkau. Setelah satu minggu berkeliling, pilihan kami
jatuh pada sebuah rumah couple panggung
terbuat dari kayu di pinggiran sungai Kayan. Meski terletak di dalam sebuah
gang sempit padat hunian, saya merasa senang bisa melihat hamparan indah sungai
Kayan setiap saat sampai puas, tempat ini juga pas untuk memenuhi hasrat hobi
Kak (suami saya) yang gemar memancing.
Sebagai orang baru, bersilaturrohim dengan tetangga
adalah hal wajib nomor satu yang harus kami lakukan. Tetangga sebelah saya yang
masih satu bangunan, adalah anak pemilik kontrakan. Sama seperti kami, mereka
adalah pasangan muda yang baru memiliki satu anak. Di depan rumah kami, adalah
tempat hunian sekaligus salon rias pengantin, di sebelah kanannya lagi saya
biasa menyebutnya ‘Ibu Dangdut’. Ibu Dangdut berasal dari Sulawesi ini suka
sekali memutar musik dangdut keras-keras, tidak peduli pagi-siang-sore-malam.
Sampai bludrek rasanya telinga. Apalagi, saat maghrib tiba. Saat adzan
berkumandang, eh, Ibu Dangdut malah asyik
berkarauke ria. Dan dibelakang
kami, seorang nenek tinggal bersama anak dan cucunya. Sang nenek adalah buruh
pencuci pakaian, anak laki-lakinya seorang pengangguran, sedang satu dari tiga
cucunya masih bersekolah.















